Mengenal Kabupaten Sekadau: Sejarah, Budaya, dan Wisata

sekadau

TL;DR

Sekadau adalah kabupaten di Kalimantan Barat yang diresmikan pada 18 Desember 2003 setelah dimekarkan dari Kabupaten Sanggau. Luasnya 5.444 km² dengan 227.055 jiwa penduduk per pertengahan 2025, didominasi suku Dayak Mualang. Ekonominya bertumpu pada perkebunan sawit dan karet. Daya tarik wisatanya mencakup air terjun, bukit, situs kerajaan, dan susur Sungai Kapuas.

Nama Sekadau diambil dari pohon. Bukan sembarang pohon, melainkan batang adau, sejenis kayu belian atau kayu besi yang dulu tumbuh lebat di muara sungai yang kini disebut Sungai Sekadau. Dari sana nama itu melekat pada sebuah wilayah di jantung Kalimantan Barat yang kini berkembang menjadi kabupaten dengan lebih dari 220.000 jiwa penduduk.

Dari Kerajaan ke Kabupaten Otonom

Jauh sebelum menjadi kabupaten, Sekadau adalah wilayah kerajaan. Cikal bakalnya bermula dari rombongan yang menyusuri Sungai Kapuas, pecahan dari keluarga besar cikal bakal Kabupaten Sanggau, yang kemudian menetap dan berkembang di tepi Sungai Sekadau. Dari sana lahir suku Kematu, Benawa, dan Mualang, yang kelak menurunkan raja-raja Sekadau.

Raja pertama Kerajaan Sekadau adalah Pangeran Engkong. Setelah wafat, takhta jatuh ke putranya Pangeran Kadar. Pangeran Agong, saudara Kadar yang kecewa atas keputusan itu, memilih menyingkir ke kawasan yang kini dikenal sebagai Lawang Kuari, sebuah gua batu di tepian Sungai Kapuas yang dianggap keramat hingga sekarang. Menurut catatan resmi Pemkab Sekadau, tempat ini sekaligus berfungsi sebagai objek wisata dan terletak sekitar 1 km dari kota ke arah hilir.

Kerajaan Sekadau bertahan melewati masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Pada Juni 1952, administrasi kerajaan diserahkan kepada pemerintah pusat. Setengah abad kemudian, tepatnya pada 18 Desember 2003, Sekadau diresmikan sebagai kabupaten otonom melalui UU No. 34 Tahun 2003, hasil pemekaran dari Kabupaten Sanggau.

Letak Geografis dan Tujuh Kecamatan Sekadau

Kabupaten Sekadau terletak di Provinsi Kalimantan Barat, berbatasan dengan Kabupaten Sanggau di sebelah barat, Sintang di utara dan timur, serta Ketapang di selatan. Luas wilayahnya 5.444,3 km², dengan ibu kota di Kecamatan Sekadau Hilir.

Kabupaten ini terdiri dari tujuh kecamatan: Sekadau Hilir, Sekadau Hulu, Belitang, Belitang Hilir, Belitang Hulu, Nanga Taman, dan Nanga Mahap. Nanga Taman dan Nanga Mahap di bagian selatan berbatasan langsung dengan Ketapang, menjadikan Sekadau jalur transportasi segitiga yang penting di Kalimantan Barat bagian tengah. Kepadatan penduduk sangat bervariasi antarkecamatan: Sekadau Hilir yang menjadi pusat kota paling padat, sementara Belitang Hulu paling jarang.

Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang lebih dari 1.100 km, melintas tepat di tengah kabupaten ini. Bagi Sekadau, sungai bukan sekadar batas geografis. Ia adalah jalur hidup yang menghubungkan kampung-kampung, menjadi sumber protein warga tepi sungai, dan penanda identitas masyarakat lokal yang sudah berabad-abad bermukim di sepanjang alirannya.

Penduduk Sekadau: Suku Dayak dan Kekayaan Budaya Lokalnya

BPS Kabupaten Sekadau mencatat jumlah penduduk pada 2023 sebesar 219.724 jiwa, dengan laju pertumbuhan 1,37% per tahun dan tingkat pengangguran terbuka 2,29%. Pada pertengahan 2025, angkanya sudah mencapai 227.055 jiwa.

Penduduk asli Sekadau adalah suku Dayak, dengan Dayak Mualang sebagai subkelompok terbesar yang mendiami kecamatan Belitang, Belitang Hilir, dan Belitang Hulu. Subkelompok lainnya meliputi Dayak Ketungau Sesat, Kerabat, Jawant, Mentuka, dan Kancikgh. Melayu Sekadau tersebar di kawasan pesisir sungai besar di seluruh kecamatan, ditambah komunitas Jawa, Tionghoa, dan Bugis.

Mayoritas warga memeluk Kekristenan, terutama di kalangan suku Dayak yang sudah bersentuhan dengan misi Katolik selama lebih dari satu abad. Bahasa komunikasi sehari-hari di kota adalah Melayu Sekadau, sedangkan di pedalaman masing-masing suku memakai bahasanya sendiri. Dayak Mualang menuturkan bahasa yang termasuk kelompok Ibanik, serumpun dengan bahasa Iban di Sarawak, Malaysia.

Beberapa kesenian tradisional yang masih hidup antara lain Tari Sampe sebagai tarian penyambutan tamu Dayak Ketungau, Tari Lang Nginang sebagai tari ritual Dayak Mualang, dan kerajinan Tenun Mualang dengan motif Engkerebang yang kini semakin langka. Festival budaya yang menampilkan tarian adat dan kuliner khas Dayak masih diselenggarakan secara berkala di beberapa kecamatan.

Ekonomi Sekadau: Sawit, Karet, dan Sungai

Perkebunan adalah tulang punggung ekonomi Sekadau. Komoditas utamanya kelapa sawit dan karet, disusul kakao, kopi, kelapa, dan lada. Di subsektor pertanian, jagung, ubi jalar, dan ubi kayu juga tetap diusahakan masyarakat. Perikanan berkembang di kawasan pinggir sungai dengan memanfaatkan jaringan Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya.

Infrastruktur yang terus membaik dalam beberapa tahun terakhir mulai menarik perhatian investor di sektor agroindustri dan pariwisata lokal. Posisi geografis Sekadau sebagai jalur antarkabupaten juga memberi keuntungan tersendiri untuk pergerakan barang dan orang.

Wisata Sekadau: Alam Masih Asri, Akses Mulai Terbuka

Sebagian besar destinasi wisata di Sekadau adalah wisata alam yang kondisinya masih sangat alami, justru karena belum banyak tersentuh pengembangan massal. Ini kelebihan sekaligus catatan praktis: pemandangannya luar biasa, tapi beberapa lokasi membutuhkan perjalanan kaki yang cukup menantang untuk mencapainya.

Air Terjun dan Wisata Alam

  • Air Terjun Gurung Sumpit di kawasan perbukitan Sekadau, menawarkan jalur trekking dengan udara sejuk dan hutan yang masih utuh di sepanjang rute.
  • Air Terjun Semirah Merambang di Dusun Belandong, Kecamatan Sekadau Hulu, dikenal juga sebagai air terjun 7 tingkat. Jaraknya sekitar 12 km dari pusat kota. Nama “semirah” dalam bahasa setempat berarti merah, merujuk pada warna batuan di sekitarnya.
  • Air Terjun Sosah Kain di Desa Tembaga, Kecamatan Nanga Mahap, dengan tujuh tingkatan aliran jernih dan cerita rakyat setempat yang menambah daya tariknya.
  • Batu Jato di Desa Pantok, Kecamatan Nanga Taman, berupa hamparan batu besar di pinggir sungai dengan air jernih yang cocok untuk berenang. Catatan: tempat ini hanya bisa dinikmati saat debit sungai sedang surut.
  • Pulau Sempadan di tengah Sungai Kapuas, pilihan wisata keluarga dengan suasana tenang dan pemandangan sungai yang lebar.
  • Bukit Gandeng di Desa Gonis Tekam, cocok untuk pendaki pemula dengan jalur tidak terlalu curam dan panorama perbukitan hijau dari puncaknya.

Wisata Sejarah dan Budaya

Lawang Kuari di Desa Seberang Kapuas, Kecamatan Sekadau Hilir, adalah gua batu legendaris tempat Pangeran Agong mengasingkan diri semasa perebutan takhta Kerajaan Sekadau. Lokasinya sekitar 1 km dari pusat kota ke arah hilir, di tepi Sungai Kapuas. Tempat ini masih dianggap keramat oleh sebagian warga, sekaligus terbuka sebagai objek wisata.

Di Kecamatan Belitang Hulu, Rumah Betang Sungai Antu Hulu diklaim sebagai rumah betang tertua di wilayah Dayak Mualang. Bagi yang tertarik pada arsitektur tradisional Dayak dan cara hidup komunal rumah panjang, tempat ini jauh lebih bermakna dari sekadar destinasi foto.

Cara ke Sekadau dari Pontianak

Dari Pontianak, Sekadau berjarak sekitar 300 km lewat jalur darat. Perjalanan dengan kendaraan pribadi atau mobil sewaan memakan waktu sekitar 6-8 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Rute melewati Sanggau sebelum masuk ke wilayah Sekadau. Jalur umumnya beraspal, tapi di beberapa titik masih ada jalan berlubang, terutama saat musim hujan.

Belum ada akses penerbangan langsung ke Sekadau saat ini. Jalur darat tetap menjadi pilihan utama dari Pontianak. Bagi yang ingin melanjutkan perjalanan ke arah hulu Kalimantan Barat, Sekadau juga menjadi titik transit penting menuju Sintang atau Kapuas Hulu.

Sekadau bukan kota besar, dan memang tidak mencoba menjadi satu. Kabupaten yang baru berusia dua dekade ini masih punya banyak sisi yang belum dikenal luas: hutan, sungai, situs sejarah kerajaan, dan budaya Dayak yang beragam. Bagi yang mencari perjalanan dengan lebih sedikit kerumunan dan lebih banyak kedalaman, Sekadau punya cukup alasan untuk masuk daftar.

Scroll to Top